Kamis, 20 Juni 2013

Setiap Hari Menyemai Cinta

Kisah menyemai cinta antara aku dan suamiku dimulai 12 tahun lalu saat pertama kali kami berkenalan. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku, kalau dia yang akan menjadi teman hidupku. Aku menganggapnya teman biasa. Dia bekerja di Ibukota Jakarta sedangkan aku bertugas di kota kecil di pulau Sumatera membuat perkenalan dan pertemuan singkat kami berlalu begitu saja, tidak ada kesan sama sekali. Komunikasi kami pun biasa, sekali-sekali dia menelepon dan titip salam melalui temannya. Namun semua itu aku anggap bukan hal istimewa.

Enam bulan setelah perkenalan itu, dia kembali ke kotaku dalam suasana dukacita. Ayah yang dikasihinya telah duluan menghadap Yang Maha Kuasa. Aku turut berbelasungkawa atas berpulangnya ayah tercintanya. Melihat kesedihan dan air matanya, timbul belas kasihan dihatiku. Ketika dia bercerita, mengajak ngobrol dan minta ditemani saat sedih seperti itu, aku tidak bisa menolak. Inilah awal kedekatan kami. Hingga tiba waktunya dia kembali ke ibukota komunikasi kami semakin lancar. Setiap hari saling menelepon, sms pagi siang sore, saling berkirim surat, semua terasa indah. Kami saling jatuh cinta. Kami jadian, resmi pacaran jarak jauh.


Enam bulan kemudian dia berkunjung kembali. Hubungan kami semakin dekat. Dia semakin intensif mendekatiku dan keluargaku. Kedua pihak keluarga pun senang dengan hubungan kami, sangat mendukung dan berharap kami bersatu secepatnya. Kami benar-benar saling jatuh cinta, saling menyayangi dan berharap melanjutkan hubungan kami ke jenjang perkawinan. Puji Tuhan, beberapa bulan kemudian kami mengikat janji setia di hadapan Tuhan disaksikan seluruh keluarga, dengan upacara adat sesuai budaya didaerah kami. 

Foto Pernikahan
http://helmaperangin.blogspot.com/
Dokumentasi Pribadi

Saat itu kami mulai menyemai cinta dan berjanji sama-sama memupuk, menyingkirkan rumput-rumput pengganggu, membuang hama penyakit agar cinta yang kami semai tumbuh dengan subur.

Tahun-tahun awal pernikahan adalah tahun-tahun sulit bagiku. Pekerjaan suamiku sebagai seorang awak media menyebabkan dia sering pulang larut malam. Gajinya tidak terlalu besar walaupun masih cukup bagi kami berdua. Keuangan keluarga kecilku pas-pasan. Aku mulai bekerja walaupun awalnya hanya part time tetapi sangat membantu. Dengan gaji berdua kami jadi bisa menabung.

Masa pacaran yang hanya sebentar, itupun dijalani jarak jauh, membuat kami belum saling mengenal satu sama lain. Perkenalan karakter diantara kami  baru dimulai sejak kami membangun rumah tangga. Cinta yang kami semai bersama menghadapi banyak rintangan, duri dan onak berserakan di depan kami. Ego masing-masing yang tinggi,mau menang sendiri, sifat manja, inginnya dimengerti tetapi tidak mau pengertian terhadap pasangan.
Aku sendiri belum mengerti sifat seorang laki-laki. Aku hanya ingin dimanja dan didengarkan. Aku tidak peka dengan keadaan suamiku. Sering aku ajak suamiku ngobrol, atau aku bercerita mengenai pekerjaanku pada saat dia juga sedang lelah karena baru pulang kerja, stress mencari berita di lapangan dan nyetor tulisan ke kantornya.  Aku tidak peka kalau dia lelah. Sehingga dia menanggapi ceritaku seadanya, menjawab ya ya saja tanpa ada komentar.
Keadaan seperti ini membuat aku merasa dicuekin, tidak disayang, tidak diperhatikan dan merasa suami mau menang sendiri karena tidak perhatian sama istri. Padahal aku yang  tidak tepat memilih waktu untuk bercerita.

Seiring berjalannya waktu,ditambah dengan baca buku mengenai pernikahan, tips-tips dari majalah dan melihat kehidupan rumah tangga orang lain, aku mulai mengetahui bagaimana sikap seorang istri yang baik dan memahami suami. Suamiku juga semakin dewasa dalam berpikir dan menyelesaikan masalah. Kami mulai peka dengan pasangan masing-masing, bijak berbicara dan saling menghargai. Riak-riak kecil dalam rumah tangga tidak pernah bisa ditiadakan,tetapi masing-masing sudah mau mengalah.

Mengalah untuk orang yang kita kasihi itu manis. Dengan mengalah kita akan menang seperti pepatah, kalah untuk menang atau mundur satu langkah untuk maju dua langkah. Melihat kita mengalah, pasangan akan lebih respect dan juga mau mengalah. Saling pengertian mulai terjalin.

Tidak terasa saat ini menjelang 11 tahun usia perkawinan kami. Tuhan sudah mengaruniakan dua jagoan di keluarga kecil kami. Saat aku dan suami memandangi kedua anak kami yang tengah lelap di malam hari, aku melihat senyum bahagia di wajah suamiku. Kelelahan yang dia rasakan ketika bekerja seharian di luar rumah seakan sirna ketika melihat putranya. Aku bangga kepada suami dan anak-anakku.  Setiap hari kami berharap menyemai cinta dan memupuknya agar selalu subur. Berharap semakin hari semakin cinta dan selalu hangat satu sama lain.



21 komentar:

  1. Kita memang tak bisa merubah sesuatu kalau kita sendiri tidak berubah, begitu ya mbak Helma. Mundur satu langkah untuk meju dua langkah, setuju tuh mbak :)

    Terima kasih partisipasinya, sudah tercatat sebagai peserta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mba Niken udah berkunjung ke lapakku.. :)

      Hapus
  2. Begitulah jalan hidup manusia ya jeng.
    Tak tahu jodoh kita siapa
    yang penting cinta harus tetap dipupuk dan dipelihara
    Soal rejeki ya kita serahkan kepada Tuhan
    Semoga berjaya dalam GA
    Nggak ikut kontes saya yang lebih seru ? Kalau mau ikut harus cari pasangan dulu ya.
    http://abdulcholik.com/2013/05/29/kontes-unggulan-blog-review-saling-berhadapan/
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir pak de.. Ingin ikutan juga tapi belum ketemu jodoh buat saling review blog...:)

      Hapus
  3. Cinta dan jodoh itu kadang unik ya mbak, dikejar kadang berlari, dibiarin malah datang sendiri...
    selamat semoga rukun slalu di usia pernikahan ke 12 dan seterusnya..

    BalasHapus
  4. Indahnya sebuah pernikahan ya :)

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Makasih...sering-sering mampir ya..:)

      Hapus
  6. sip,,..semoga langgeng dan berbahagia terus ya,,aamiin :)

    BalasHapus
  7. cerita yang sangat manis mbak... dan akhirnya bahagia, semoga benar2 bersama dan langgeng samapi akhir hayat...

    oe me, kalak karo kam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...langgeng sampai akhir hayat walau kerikil-kerikil pasti selalu ada tetapi bisa melewatinya bersama-sama..

      Hapus
  8. sosweet

    kunjungi n komen punyaku juga ya mbak

    http://bukutian.blogspot.com/2013/06/menyemai-cinta-from-batang-with-love.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih..
      Oke.. Nanti saya bw ya..

      Hapus
  9. datang berkunjung...
    sukses selalu kedepannya, semakin tegar dan kompak aja.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih buat kunjungannya dan makasih juga buat doanya...

      Hapus
  10. halooo kak, salam kenal.. aku suka quote yg diatas "Mengalah untuk orang yang kita kasihi itu manis" hihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo juga Rika... Salam kenal ya nande tigan... :)

      Hapus